SEJARAH MASJID KIAI MEROGAN


Dengan arsitektur yang sangat mirip dengan Mesjid Agung. Itulah mesjid Ki Merogan, yang menunjukkan berbagai budaya yang berkembang di masyarakat Palembang waktu itu, yaitu perpaduan antara Melayu dan timur dengan ciri keterbukaan.
Masjid Kiai Merogan ini merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang, setelah Masjid Agung. Masjid Kiai Merogan didirikan pada tahun 1310 H atau 1890 M oleh ulama Palembang yang sangat terkenal, yaitu Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Ana Jika kita melongok ke tepian sungai Ogan di Kerta Pati, kita akan melihat sebuah mesjid ng atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Merogan dengan biaya sendiri. Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan ini dilahirkan pada tahun 1811 M dari seorang ulama dan pedagang yang sukses.
Kiai Merogan mendirikan masjid tersebut dengan sebuah naskah yang terdapat tulisan “Nuzar Nujal Lillahi Ta’alai” pada tanggal 6 Syawal 1310 H. Di masa Kesultanan Palembang masjid ini punya peran yang strategis dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial masyarakatPalembang.
Kiai Merogan senantiasa mengajarkan zikir kepada pengikutnya dengan cara yang unik. Apabila Beliau akan pergi-pulang dari Masjid Kiai Merogan ke Masjid Lawang Kidul, sambil mengasuh perahu Beliau dan pengikutnya bersama-sama menyenandungkan zikir secara berulang-ulang. Karena itulah penduduk sekitar tahu kalau Kiai Merogan sedang lewat dan sejak itulah Beliau dikenal dengan nama Kiai Merogan. Nama Kiai Merogan sesuai dengan aktivitas Beliau yang sering berada di kawasan Muara sungai Ogan yang airnya mengalir ke sungai Musi.
Tidak hanya Masjid Kiai Merogan yang dibangun Kiai Merogan, tetapi Masjid Lawang Kidul yang berada di tepi Sungai Musi, di daerah seberang ilir, kelurahan 5 ilir. Selain itu, Kiai Merogan juga mendirikan masjid di desa Pedu, Pemulutan, OKI dan masjid di desa Ulak Kerbau Lama, Pegagan Ilir, OKI. Sangat disayangkan, kebakaran yang terjadi pada tahun 1964—1965 telah menghanguskan peninggalan karya tulis Kiai Merogan.
Semasa hidupnya, Ki Merogan melakukan pelawatan ke Mekkah dan Saudi Arabia untuk menuntut ilmu agama. Namun, selama berada di negeri orang, Beliau senatiasa terbayang dan teringat pada “Si anak Yatim” yang berada di tepian Sungai Ogan dan tepian Sungai Musi, yang tak lain adalah Masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul.
Kiai Merogan meninggalkan para pendukungnya pada 31 Oktober 1901 dan dimakamkan di sekitar Masjid Kiai Merogan Meskipun, Kiai Merogan telah lama tiada, makamnya dikeramatkan hingga kini dan senantiasa ramai dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk berdoa dan mendapat berkah.
Kiai Merogan dapat dipandang sebagai sejarah kolektif (folk history). Cerita-cerita orang-orang suci (legends of the saints) dapat terus hidup di tengah masyarakat pendukungnya.
Cerita-cerita mengenai kemujizatan, wahyu, permintaaan melalui sembahyang, kaul yang terkabul, dan lain-lain dapat kita peroleh melalui pewarisan lisan dari waktu ke waktu, di antaranya kisah mengenai ikan.
Pada suatu waktu ada pedagang ikan yang berasal dari OKI membawa ikan yang hendak dijualnya ke Palembang. Namun, ketika sampai di Palembang, semua ikan-ikan tersebut mati. Lalu, pedagang itu teringat akan kemasyuran Kiai Merogan. Kemudian pedagang tersebut menemui Kiai Merogan untuk meminta nasihat. Belum sempat pedagang itu berkata sepatah katapun, Kiai Merogan langsung berkata, “Insya’Allah, semua ikan-ikanmu hidup dan dapat dijual ke pasar!” Ketika sampai di perahu, pedagang itu melihat seluruh ikan-ikannya hidup.
Kisah lainnya, ketika seseorang ingin membuktikan kekeramatan Kiai Merogan dengan cara melepas seekor ikan yang besar, sambil berkata “Hai ikan, pergilah Engkau menemui Kiai Merogan di Masjid Merogan sebagai hadiah dariku!” beberapa hari kemudian, orang tersebut menemui Ki Merogan. Belum sempat mengutarakan maksudnya, sang Kiai lebih dulu menyapanya dan berkata kalau kirimannya sudah sampai dan diterima dengan baik.

Kiai Merogan memang telah lama tiada, namun peninggalannya tetap abadi dan berdiri kokoh. Kisah, perjuangan, dan ajarannya senantiasa hidup, hadir, dan menjadi teladan masyarakat pendukungnya dari waktu ke waktu.

SEJARAH JEMBATAN AMPERA


Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.
Struktur
Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)
Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton
Sejarah
­­­­­                Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” ­­­dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

Keistimewaan

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

SEJARAH MASJID LAWANG KIDUL PALEMBANG


Kiai Muara Ogan yang memiliki nama asli Massagus Haji Abdul Hamid selain membangun Masjid Kiai Muara Ogan juga membangun Masjid Lawang Kidul. Masjid ini terletak di muara Sungai Lawang Kidul, berdiri diatas tanjung muara pertemuan Sungai Lawangkidul dengan Sungai Musi. Dibangun pada tahun 1310 H (1890 M), masjid ini diberi nama Lawang Kidul, sesuai dengan posisi pintu utama masjid yang menghadap selatan, berhadapan langsung dengan Sungai Musi.
Dilihat dari posisi kedua masjid peninggalan Kiai Muara Ogan berada di tepi Sungai Musi, besar kemungkinan sebagian besar aktifitas beliau berada di kawasan perairan Sungai Musi. Biasanya beliau menggunakan perahu kayu mengarungi Sungai Musi bersama murid-muridnya.
Arsitektur Masjid Lawang Kidul menyerupai Masjid Agung Palembang dan Masjid Kiai Muara Ogan. Ada ciri khas pada Masjid Lawang Kidul, yakni menara masjid memiliki tiga undakan pada bagian tubuh menara. Kemudian, atap masjid pada bangunan utama melebar memayungi ruangan utama di bawahnya.
Atap Masjid Lawang Kidul memiliki tiga undakan. Uniknya, undakan kedua seakan-akan menutupi undakan pertama. Diantara undakan kedua dan ketiga tidak ada diberi sekat jendela. Bagian puncak atap terpasang bulan sabit. Atap ruangan mihrab tidak sama dengan atap utama masjid. Atap mihrab dibuat sangat mirip dengan atap kelenteng.
Material masjid terdiri atas campuran batu kapur, putih telur dan pasir. Bahan-bahan inilah yang mempertahankan lamanya usia bangunan. Material utama lainnya adalah kayu unglen untuk unsur tiang, pintu, atap, dan jendela.
Pilar utama masjid yang terdiri dari empat soko guru setinggi 8 meter dengan 12 pilar pendamping setinggi 6 meter. Seluruh tiang masjid berbentuk segi-delapan. Empat alang (penyangga) atap sepanjang 20 meter juga terbuat dari kayu unglen yang disusun tanpa sambungan.
Tiang masjid lainnya terpasang di serambi. Ukurannya sedikit lebih besar dari tiang utama di ruangan utama. Pola pahatan tiang serambi berbentuk oval dengan sudut melengkung. Dasar dan puncak tiang dibentuk bulatan cincin.
Bahan atap pada mulanya genteng belah bambu, kemudian diganti dengan genteng kodok. Renovasi masjid dilaksanakan pada kurun tahun 1983-1987 untuk mengganti beberapa bagian masjid yang sulit dipertahankan lebih lama. Namun bentuk bangunan tidak diubah sama sekali. Bangunan utama masjid tetap berukuran 20 meter x 20 meter. Penambahan pada bagian tempat wudhu, toilet, kelas TK-TPA, kantor yayasan masjid, sehingga ukuran luas masjid menjadi 40 meter x 41 meter. Perbaikan dan penambahan dilakukan pada atap teras, pagar masjid dan turap.
Interior Masjid Lawang Kidul lebih sederhana dari Masjid Kiai Muara Ogan. Hiasan ukiran dan kaligrafi hanya terdapat pada mimbar dan langit-langit ruangan utama. Ukiran kayu membentuk sulur-sulur bunga pada mimbar menunjukkan unsur budaya Melayu yang menyatu dengan alam. Pada langit-langit ruangan utama, kaligrafi empat sahabat utama Rasulullah SAW terbingkai serasi dengan ukiran sulur-sulur bunga yang senada pada mimbar.
Sang pendiri masjid, Kiai Muara Ogan, sangat gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sumatera Selatan yang dahulu menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam ini. Beliau sangat dikagumi masyarakat karena kesungguhannya mengembangkan pendidikan Islam di Palembang. Beliau jadikan masjid sebagai pusat penggemblengan santri-santri yang kelak akan menjadi penerus beliau menyebarluaskan ajaran Islam hingga ke pelosok wilayah Sumatera Selatan.
Peninggalan Kiai Muara Ogan tidak hanya Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Muara Ogan di Palembang. Beliau meninggalkan pula tiga unit pemondokan jemaah haji di Saudi Arabia, sebuah masjid di Dusun Pedu Pemulutan OKI-Sumatera Selatan, dan masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir-Sumatera Selatan.
            Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Muara Ogan sampai kini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Di tempat inilah ajaran Islam disebarluaskan dan berkembang dengan sangat baik oleh seorang saudagar berpengetahuan agama yang luas

MASJID AGUNG PALEMBANG


Masjid Cheng Hoo Palembang sebenarnya bernama Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jakabaring Palembang. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumsel, dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang.Mesjid yang didirikan warga keturunan ini juga memiliki imam baru yang sudah hafal 30 juz dari kitab suci umat Islam, Al-Quran yaitu Choirul Rizal.
Keberadaan Laksamana Cheng Ho tak dipisahkan dari Palembang. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Cheng Ho sempat tiga kali datang ke Palembang. Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保), berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.
Alam penyebaran Islam di Indonesia, selain dilakukan para pedagang dari Arab dan sekitarnya, ternyata para pedagang asal Tionghoa ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan Islam di Palembang. Armada Cheng Ho sebanyak 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 yang dipimpinnya itu pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang. Pada 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yang mengganggu ketenteraman. Kepala perampok Chen Tsu Ji tersebut berhasil diringkus dan dibawa ke Peking. Semenjak itu, Laksamana Cheng Ho membentuk masyarakat Tionghoa Islam di Kota Palembang yang memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya banyak didiami orangorang Tionghoa. Gerombolan perompak yang dipimpin Chen Tsu Ji, sebenarnya bekas seorang perwira angkatan laut China asal Kanton. Dia melarikan diri ketika Dinasti Ming berkuasa. Pelariannya berlabuh di Palembang. Kedatangannya ke Palembang telah membuat resah para pedagang yang singgah. Sebab, Chen Tsu Ji membawa ribuan pengikutnya dan membangun basis kekuasaan di Palembang, atau dalam bahasa China, po-lin-fong, yang berarti ”pelabuhan tua.” Selama berkuasa di Palembang, Chen Tsu Ji menguasai daerah sekitar muara Sungai Musi, perairan Sungsang, dan Selat Bangka. Anak buah Chen Tsu Ji merompak semua kapal yang melintasi perairan itu. Kebetulan atau tidak, daerah-daerah itu sampai kini jadi kantung-kantung bandit Palembang. Selama perjalanan Cheng Ho antara 1405–1433 M, dia pernah empat kali ke Palembang. Tahun 1407 masehi, armada Cheng Ho mampir ke Palembang dalam rangka menumpas perompak yang dipimpin Chen Tsui Ji tersebut. Kemudian, pada tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M, armada Cheng Ho berlabuh ke Palembang. Setelah memberantas para perampok, Laksamana Cheng Ho berlabuh hingga tiga kali ke Palembang. Namun, tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYV0GrEcPZrfYWDHzTldvCnMfdxSttOUQc3NxBafAWbrEZJLwO9-3VLfdKd3VdGY1N35yPPLC6re1O95zvqVV9ERwRs5fpwNaaHJneXw3sYJXanw02QDI00xkwM1PxVkawrW1DZug5ETY/s400/masjid-agung.jpg

Pendirian
Masjid Agung pada mulanya disebut Masjid Sultan. Perletakan batu pertama pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen tanggal 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748. Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan Jayo Wikramo (tahun 1724-1758).
Masjid Agung Palembang bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Masjid ini berada di utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak yang berdekatan dengan aliran sungai Musi. Secara administratif, berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHELNkK6Ezk7F4_R9qIWb6o8quEFbNBBsfUezOc5xhy2pf5TdTEO6Ax_79aLPAkUYogt1zTdBRLDWyeRGcMxao4R8SBAlolgmIcJsymROixisLqKgld2CmnY-NwJhBazyu68eZGb3Je0c/s1600/1.jpg
Masjid Agung Palembang mulai dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Pembangunan berlangsung selama 10 tahun dan resmi digunakan sebagai tempat peribadatan umat muslim Palembang pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M.
Masjid Agung 1753 Awalnya masjid ini bernama Masjid Sultan, dan belum memiliki menara. Bentuk masjid hampir bujursangkar, memiliki ukuran 30 meter x 36 meter. Dengan luas mencapai 1080 meter persegi, konon, Masjid Sultan merupakan masjid terbesar di nusantara yang mampu menampung 1200 jema’ah.

Arsitektur
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSJ0Fiwk5Xni_nGgz3eDrImuU8_bSWQ4e_l5PtGVxV0Kpi4CXhn5wFI9Fc6h2PAvW499xz3EahUN5b4z6P2NoOeZVGm3R8mV7yvbzuup_ltfBIok8Rae1Q9s0bzUYdRjfKAvuUiivaRJk/s1600/2.jpgMasjid Sultan dirancang oleh seorang arsitek dari Eropa. Konsep bangunan masjid memadukan keunikan arsitektur Nusantara, Eropa dan Cina. Gaya khas arsitektur Nusantara adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak masjid atau mustaka memiliki jenjang berukiran bunga tropis. Pada bagian ujung mustaka terdapat mustika berpola bunga merekah. Bentuk undakan bangunan masjid dipengaruhi bangunan dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak.










Atap masjid berbentuk limas, terdiri dari tiga tingkat. Pada bagian atas sisi limas atap terdapat jurai daun simbar menyerupai tanduk kambing yang melengkung. Setiap sisi limas memiliki 13 jurai. Bentuk jurai melengkung dan lancip. Rupa ini merupakan bentuk atap kelenteng Cina. Ciri khas arsitektur Eropa terdapat pada rupa jendela masjid yang besar dan tinggi. Pilar masjid berukuran besar dan memberi kesan kokoh. Material bangunan seperti marmer dan kaca diimpor langsung dari Eropa.

Pembangunan Menara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaPndDLAHGz2z0x85e11TaBjl7EhyHgyGrZqX9q3uc4zqMDtQd0pEAtGj941FVoYyHkg1zZ6RRwtVinaFtmvezCCSSTojsHDJRgYN_olYHv044I_A6DXCIe4cOOaJWzeTGpVWd9moPsFg/s200/3.jpg
Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (masa pemerintahan 1758–1774) menara masjid dibangun. Lokasi menara masjid terpisah dari bangunan utama, dan berada di bagian barat. Pola menara masjid berbentuk segi enam setinggi 20 meter. Rupa menara masjid menyerupai menara kelenteng. Bentuk atap menara melengkung pada bagian ujungnya, dan beratap genteng. Menara masjid memiliki teras berpagar yang mengelilingi bangunan menara


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsgKv7rL7E439PpZIWaFZ-YiXVDMYhB8w633F3FUXe0OujzVxXsx1ZuUfMQ5biFNUuuvDi8KBjZ4ZyyDbfSeASqqGs0FgUqzEGwQNtBKYHWax50u3vGlyaGnJxu7pmZ6yX23Ua26kxww8/s200/8.jpgTempat Pusat Kajian Islam di Palembang






Arsitektur Masjid Agung dan masjid tua lainnya di Palembang secara simbolik memiliki nilai filosofis yang tinggi. Undakan pelataran masjid dan tingkatan atap yang berjumlah tiga memberi makna perjalanan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hamka (1961) menafsirkan atap tumpang sebagai berikut: Tingkat pertama melambangkan Syariah serta amal perbuatan manusia. Tingkat kedua melambangkan Thariqat yaitu jalan untuk mencapai ridlo Allah SWT. Atap tingkat ke tiga melambangkan Hakikat, yaitu ruh atau hakekat amal perbuatan seseorang. Sedangkan Puncak (Mustoko) melambangkan Ma’rifat, yaitu tingkat mengenal Tuhan Yang Maha Tinggi.
Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat Kesultanan Palembang Darussalam menjadi pusat kajian Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama besar. Syekh Abdus Shamad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah, adalah beberapa ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung. Peran para ulama ini sangat besar dalam mengembangkan agama Islam di wilayah Kesultanan Palembang. Konsep pengajaran Islam diturunkan kedalam lingkup amal (praktik) dan ilmu (wacana), sehingga mudah diterima dan diamalkan oleh masyarakat muslim Palembang.

Saksi Sejarah
Masjid Agung Palembang menyimpan kenangan tak terlupakan sepanjang masa. Ia menjadi saksi perjuangan rakyat Palembang pada pertempuran lima hari melawan Belanda di pusat kota. Pertempuran bermula pada tanggal 1 Januari 1947. Pejuang Republik awalnya menyerang RS Charitas. Keesokan harinya Belanda membalas serangan dengan kekuatan penuh menuju pusat komando pejuang Republik yang berada di Masjid Agung Palembang. Batalyon Geni merapatkan barisan bersama berbagai tokoh masyarakat demi mempertahankan masjid dari kehancuran. Pejuang Republik berhasil bertahan, tentara Belanda mundur akibat kekurangan pasokan. Pada saat yang bersamaan bantuan pasukan Belanda yang datang dari Talangbetutu berhasil dihadang oleh pasukan Republik dibawah Letnan Satu Wahid Luddien.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqgVKB5KMOXzZ-0b0cvKDpJZKqMjN4UR0oJmm_yC-B8nzWgcdi5Wdqdzlf9d6jxkTtlQKwg2Vr2JLfQPF7ihwQQ3Mry-PAobqSmJWCVQMGRnWtST5VmVXDisAz-ojrBKrJKCZd7X3IiVY/s400/9.jpg
Belanda melancarkan kembali serangan pada hari ketiga. Kekuatan mereka lebih besar, mendapat dukungan serangan udara dari pesawat – pesawat Mustang untuk meluluhlantakkan kota Palembang. Namun upaya mereka gagal, kememangan kembali diraih setelah pasukan Ki.III/34 berhasil menenggelamkan satu kapal Belanda yang penuh dengan mesiu, meskipun harus menelan korban banyak akibat bombardir serangan udara pesawat Mustang Belanda.
Pada hari keempat, bantuan pasukan Republik yang akan bergabung di Masjid Agung Palembang dihadang pasukan Belanda di wilayah sekitar Simpang Empat BPM, Sekanak dan Kantor Karesidenan.
Pertempuran berlanjut hingga hari kelima. Kekuatan Belanda langsung menuju jantung pertahanan pasukan Republik, Masjid Agung Palembang. Pertempuran sengit terjadi, pasukan Mobrig pimpinan Inspektur Wagiman dengan bantuan Batalyon Geni mampu mempertahankan garis pertahanan sehingga pasukan Belanda gagal merangsek. Setelah melewati lima hari pertempuran yang melelahkan, pihak Belanda menyatakan mundur. Disepakati perjanjian Cease Fire oleh kedua belak pihak. Perjanjian ini menandakan berakhirnya pendudukan Belanda dari wilayah kota Palembang.


Masjid  ini menjadi perlambang sebuah semangat perjuangan rakyat dalam mempertahanan hak hidup, hak menentukan nasib sendiri dan hak merdeka sebagai manusia seutuhnya. Seiring gema adzan yang mengalun di antara menara-menara besarnya, masjid ini tetap kokoh menjaga umat muslim dari sebuah ketertindasan.

MONPERA


Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda.
Peletakan Batu Pertamanya dan pemancangan tiang bangunan pada tanggal 17 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Perwira Negara. Banyak juga pejuang meninggal sehingga dibuat tugu di samping jalan Tenggkuruk atau taman Nusa Indah .Untuk mengenang para pahlawan dalam pertempuran tersebut maka dibentuklah monument yaitu MONPERA.
Didalam Museum ini kita dapat melihat berbagai jenis senjata yang dipergunakan dalam pertempuran tersebut termasuk berbagai dokumen perang dan benda-benda bersejarah lainnya.
                Sejak peletekan batu pertama tanggal 17 Agustus 1975 lalu, pertanda dimulainya pembangunan, Monpera baru selesai sekitar 12 tahun ke depan. Dari masa Gubernur Asnawi Mangku Alam, peresmian oleh Menko Kesra RI H Alamsyah Ratu Perwiranegara tanggal 23 Februari 1988 dilakukan pada masa Gubernur H Sainan Sagiman.
Biaya APBD Pemda Sumsel tahun 1980 hingga 1988 mencapai Rp1.181.351.800. Dengan biaya sebesar ini, tiap sudut Monpera dibuat hingga memiliki makna khusu. Inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik Monpera.
Masuk dari bagian depan, enam cagak beton bertautan tiga-tiga dibatasi jalan masuk plaza Monpera mengambarkan satu kesatuan wilayah pertahanan masa perang kemerdekaan. Terdiri keresidenan Palembang, Lampung, Bengkulu, Jambi dan Babel.
Sedikit maju terdapat gading gajah besar (binatang penghuni hutan pedalaman Sumsel,red) terbuat dari batu pualam ditandantangani oleh Menko Kesra RI Alamsyah Ratu Perwiranegara. Ibarat pepatah “Gajah mati meninggalkan gading”, gading ini diartikan perjuangan pahlawan yang gugur meninggalkan darma baktinya bagi negara dan bangsa. Gading ini diarahkan simetris dengan lambang Garuda tempampang besar di Monpera. Diartikan bahwasnya kemerdekaan, merupakan modal dasar pembangunan bangsa.
Bentuk bangunan secara umum menyerupai melati berkelopak lima. Melambangkan putih dan murninya perjuangan pahlawan. Tinggi gedung mencapai 17 meter, jalur tampak depan mencapai angka delapan, sedangkan jumlah jalur dan bidang mencapai 45 melambangkan waktu diproklamirkanya kemerdekaan.
Ada juga beton dibangun menanjak ke atas di dua sisi, serta bagian gedung utama. Tiap sisi dibangun tiga jalur sehingga berjumlah sembilan. Diartikan sebagai “Batanghari sembilan”. Jumlah sembilan anak mengaliri Sumsel yang bermuara ke sungai Musi.
“Ada juga dua relief dibangun di sisi kiri kanan gedung mengambarkan penderitaan rakyat pada masa Jepang dan pertempuran lima hari lima malam
Di dalam Monpera sendiri terdiri dari delapan lantai. Lima lantai bawah diisi dijadikan sebuah musium. Di lantai ini dipajang tokoh pejuang kemerdekaan. Dr AK Gani, Drg M Isa, Mayjend H Hasan Kasim, Letjend H Bambang Utoyo, Residen H Abdul Rozak, Kol Barlian serta Letjend H Harun Sohar.
Di lantai dua, Anda dapat melihat 14 pucuk senjata yang sebagian besar merupakan hasil pampasan perang zaman sebelum kemerdekaan. Ada senjata jenis pistol, senapan, kecepek, ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo doeloe.
“Untuk keamanan bersama, senjata-senjata itu kita tempatkan di ruang khusus berdinding kaca. Hanya dapat dilihat dari luar. Ini tak lain untuk mengantisipasi ulah tangan-tangan jahil,” Naik ke lantai tiga museum, terdapat patung yang merupakan replika wajah dari keenam pejuang kemerdekaan asal Sumsel. Juga ada koleksi pakaian dinas baik sipil maupun militer yang dipakai keenam tokoh perjuangan dalam merebut kemerdekaan, itu. Lantai empat hanya dipakai untuk kantor.





SEJARAH SABOKINGKING


Makam Sabokingking, merupakan pemakaman para raja-raja awal kerajaan Islam Palembang yang telah berusia sekitar 500 tahun. 
Seperti makam Pangeran Sido Ing Kenayan dan istrinya Ratu Sihuhun, Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652), serta Pangeran Ki Bodrowongso yang pernah hidup di antara tahun 1622-1635 Masehi. Makam ini terletak di Sei-Buah, Ilir Timur II, Palembang.
Letak makam Pangeran Sido Ing Kenayan dan istrinya Ratu Sinuhun ini tidak jauh dari dari kompleks pemakaman kakek mertuanya Ki Gede Ing Suro, di lorong Haji Umar, di 1 Ilir Palembang. Ratu Sinuhun merupakan cucu Ki Gede Ing Suro.
Di bawah pemerintahan Sido Ing Kenayan, Ratu Sinuhun mampu melahirkan kitab Undang-undang 'Simbur Cahaya' yang merupakan hukum adat tertulis dan berlaku di seluruh wilayah Sumatra Selatan saat itu.
Disekitar makam ini juga terdapat pemakaman umum buat penduduk asli daerah tersebut. Untuk menuju ke tempat ini dapat mi akses melalui dua jalan, Jalan Sabokingking dan Jalan Arafuru. Makam Sabokingking ini merupakan makam tertua para raja atau pangeran di Palembang. 
Di makam ini disemayamkan Pangeran Sido Ing Kenayan (1622-1630), Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652), Ratu Sinuhun- penulis kitab Simbur Cahaya- serta imam kubur Al Habib Al Arif Billah Umar bin Muhammad Al Idrus bin Shahab, serta Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman.



SEJARAH KAWAH TENGKUREP


Kompleks Pemakaman ini sekarang masuk dalam kawasan Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Berdasarkan catatan lama, pemakaman ini dibangun tahun 1728 M atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (wafat tahun 1756 M), setelah pembangunan Kompleks Makam atau Gubah Talang Kerangga (30 Ilir). Nama kawah tekurep diambil dari bentuk cungkup (kubah) yang menyerupai kawah ditengkurapkan (Palembang: tekurep). Jika diukur dari tepian Sungai Musi, kompleks makam ini berjarak sekitar 100 meter dari sungai.
Sekelilingnya dipagari dengan batu bata, yang sebagian telah rusak. Di sisi yang menghadap Sungai Musi (arah selatan), terdapat gapura yang merupakan gerbang utama untuk memasuki kompleks makam. Di dalamnya, terdapat empat cungkup. Yaitu, tiga cungkup yang diperuntukkan bagi makam para sultan dan satu cungkup untuk putra-putri Sultan Mahmud Badaruddin, para pejabat dan hulubalang kesultanan. Berikut nama-nama tokoh yang dimakamkan:
Cungkup I:
1. Sultan Mahmud Badaruddin I (wafat tahun 1756 M)
2. Ratu Sepuh, istri pertama yang berasal dari Jawa Tengah
3. Ratu Gading, istri kedua yang berasal dari Kelantan (Malaysia)
4. Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio), istri ketiga yang berasal dari Cina
5. Nyimas Naimah, istri keempat yang berasal dari 1 Ilir (kini Guguk Jero Pager Kota Plembang Lamo)
6. Imam Sayyid Idrus Al Idrus dari Yaman Selatan
Cungkup II:
1. Pangeran Ratu Kamuk (wafat tahun 1755 M)
2. Ratu Mudo (istri P. Kamuk) 3. Sayyid Yusuf Al Angkawi (Imam Sultan)
Cungkup III:
1. Sultan Ahmad Najamuddin (wafat tahun 1776 M)
2. Masayu Dalem (istri Najamuddin)
3. Sayyid Abdur Rahman Maulana Tugaah (Imam Sultan dari Yaman)

Cungkup IV:
1. Sultan Muhammadi Bahauddin (wafat tahun 1803 Masehi)
2. Ratu Agung (istri Bahauddin)
3. Datuk Murni Hadad (Imam Sultan dari Arab Saudi)
4. Beberapa makam lain yang tidak terbaca namanya

welcome to my blog

hello blogger, selamat datang di blog gue. agak ancur ya? wk maaf baru bljr buat blog. disini blog gue berperan sbg buku harian atau tempat curhatan gitu, thanks for visit my blog ya~ big hug and mwaaahhh:* {}
Powered By Blogger
Powered by Blogger.

RGV popular posts

About Me

My photo
palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
The fucking girl who is waiting for nothing is me.

My Followers

My pageviews